Jakarta – Banjir menerjang permukiman RW 014, Kelurahan Peninggilan Utara, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Puluhan warga terpaksa mengungsi sementara dan sahur bersama di dapur umum darurat. Dengan menu seadanya, yakni mi instan, warga menjalankan sahur bersama. Sekira pukul 04.28 WIB, memasuki waktu imsak dan mendekati waktu salat Subuh, banjir masih memenuhi halaman dan ruang dalam Masjid Jami Al-Hidayah.
Banjir setinggi sekitar 50 sentimeter atau sedengkul orang dewasa itu terdapat di beberapa titik, membuat tempat ibadah itu tidak dapat digunakan untuk salat subuh berjemaah. Ketua RW 014 Peninggilan Utara, Rudin Sagitara, mengatakan, banjir kali ini dipicu hujan. Lokasi permukiman yang berada di dataran rendah, membuat air dengan cepat menggenangi lingkungan.
“Ini sebenarnya hujan kategori biasa, curahnya tidak terlalu tinggi. Tapi karena wilayah kami rendah dan dikelilingi perumahan, begitu hujan turun air langsung mengalir ke sini,” kata Rudin. Pengurus masjid juga menggunakan pengeras suara untuk memberi peringatan kepada warga agar tetap waspada. “Kami umumkan lewat pengeras suara supaya warga tidak langsung tidur. Karena airnya naik sangat cepat,” ucapnya. Sementara, Ketua RT 02 RW 014, Supri juga mengatakan, ketinggian air di dalam masjid mencapai sekitar 50 sentimeter. Sementara di beberapa rumah warga genangan air bahkan lebih tinggi.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan keluar rumah pada dini hari. Bahkan, sebagian rencana pengecekan lingkungan sempat dibatalkan karena banjir. “Tadi kami sempat mau turun ke warga, tapi tidak jadi karena airnya cukup dalam,” ujarnya. Banjir ini juga berdampak pada aktivitas ibadah saat bulan puasa. Dengan kondisi masjid yang terendam air, salat Subuh berjemaah di Masjid Jami Al-Hidayah dipastikan tidak dapat dilaksanakan.
Menurut Rudin, jika melihat pengalaman sebelumnya, proses pembersihan masjid biasanya membutuhkan waktu cukup lama. “Kalau seperti ini biasanya kita bersihkan sampai sekitar jam delapan pagi baru selesai. Jadi untuk Subuh kemungkinan tidak bisa dipakai,” ujarnya. Sebagai alternatif, warga yang ingin salat berjemaah diarahkan menuju masjid lain yang berada di wilayah yang lebih tinggi.
“Kalau yang dekat bisa ke Masjid Al-Jihad yang posisinya di atas. Kalau tidak, biasanya warga salat di rumah masing-masing dulu,” kata Rudin. Saat banjir terjadi, ada sekitar 35 warga untuk sementara mengungsi di lokasi tersebut. Mereka sahur bersama dengan menu sederhana berupa mi instan. “Kita bikin dapur umum supaya warga yang terdampak bisa sahur. Yang tidak bisa keluar rumah juga kita antar makanannya,” pungkas Rudin.

