Iran Vs AS dan Israel Siapa Mengendalikan Eskalasi Konflik?

Teheran – Perang Iran yang masih berlangsung memicu pertanyaan soal siapa yang sebenarnya memegang kendali dalam eskalasi konflik.

Mengutip laporan TRT, selama beberapa dekade, konsep “dominasi eskalasi” menjadi pilar penting dalam strategi militer dan politik. Konsep ini digunakan untuk mengukur tidak hanya intensitas konflik, tetapi juga kemampuan pihak-pihak yang terlibat untuk meningkatkan, mempertahankan, atau mengakhiri permusuhan.

Menurut think tank RAND, teori dominasi eskalasi merujuk pada kondisi ketika satu pihak diyakini memiliki keunggulan pada tingkat konflik yang lebih tinggi, sementara pihak lawan memiliki disinsentif kuat untuk melanjutkan eskalasi lebih jauh.

Dalam ancamannya terbarunya yang menargetkan infrastruktur vital Iran, Presiden Donald Trump berasumsi bahwa Amerika Serikat (AS) berada di posisi unggul. Ia meyakini bahwa Teheran akan enggan membalas. Logika di balik asumsi ini adalah bahwa serangan terhadap infrastruktur Iran dapat melemahkan kekuatan militer sekaligus merusak moral dan ketahanan nasional negara tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyatakan, “Terkadang Anda perlu meningkatkan eskalasi untuk meredakannya”, merujuk pada konflik dengan Iran dan ancaman terbaru Trump. Pernyataan ini menunjukkan keyakinan bahwa Washington memiliki posisi lebih kuat dalam tangga eskalasi.

Namun, Iran merespons dengan tegas. Teheran menyatakan bahwa jika AS menyerang infrastrukturnya, Iran akan membalas secara setara dengan menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Arah Eskalasi yang Tidak Pasti

Pada Senin, Trump menangguhkan ancamannya selama lima hari. Ia menyebut adanya “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” yang mengarah pada “penyelesaian total dan menyeluruh” konflik di Timur Tengah.

Namun, para pemimpin Iran kembali membantah adanya pembicaraan dengan pemerintahan Trump. Klaim yang saling bertentangan ini membuat para analis mempertanyakan siapa yang sebenarnya memegang kendali dalam eskalasi konflik.

Robert Pape, akademisi AS dan pakar dominasi eskalasi, menilai bahwa keunggulan taktis seperti persenjataan canggih dan intelijen tidak selalu berujung pada keberhasilan strategis. Dalam kasus Iran, menurutnya, baik AS maupun Israel belum mencapai tujuan strategis utama, yaitu memaksa Teheran untuk menyerah.

Konflik kini berisiko memasuki fase yang lebih berbahaya, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke wilayah Iran. Para ahli menilai terlalu banyak variabel yang terlibat sehingga diperlukan analisis mendalam untuk memahami dinamika dominasi eskalasi yang terus berubah.

Andreas Krieg, profesor di King’s College London dan direktur MENA Analytica, menekankan bahwa dominasi eskalasi tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada daya tahan dan ambang batas penderitaan.

“Dalam ranah konvensional, AS dan Israel mengendalikan tempo operasi. Namun secara strategis, Iran menemukan domain asimetris di mana mereka dapat mengatur tempo karena mampu mempertahankan tekanan dalam jangka panjang, mengganggu pasar energi, dan menghambat kebebasan navigasi,” ujarnya seperti dikutip dari TRT.

Krieg merujuk pada serangan Iran di negara-negara Teluk yang menargetkan pangkalan AS dan blokade Selat Hormuz, jalur strategis yang mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Akibatnya, harga energi melonjak dan banyak negara yang bergantung pada minyak dan gas menghadapi risiko kekurangan pasokan.

Keunggulan dan Kerentanan di Berbagai Dimensi

Ozgur Korpe, mantan perwira militer Turki dan akademisi di National Defence University, memiliki pandangan serupa. Ia menyatakan bahwa tidak ada pihak yang memiliki keunggulan mutlak di semua tahap eskalasi.

“Konflik ini tidak menghasilkan superioritas pada satu aspek seperti dalam teori klasik, melainkan menghadirkan keunggulan dan kerentanan komparatif di berbagai bidang,” bebernya.

Menurut Korpe, AS dan Israel unggul dalam intelijen, supremasi udara, dan kemampuan serangan presisi. Namun Iran memiliki keunggulan dalam perang asimetris. Negara, yang telah lama menghadapi sanksi, tersebut dinilai lebih mampu bertahan terhadap tekanan ekonomi dibandingkan lawannya.

Ia juga menyoroti faktor domestik. Opini publik anti-perang di AS dapat menjadi kendala, sementara retorika “perlawanan” dari kepemimpinan Iran serta mekanisme represif internal dapat memberikan ketahanan jangka pendek bagi Teheran. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kerentanan ekonomi Iran bisa menjadi kelemahan jangka panjang.

Di sisi lain, kerugian ekonomi dialami pula oleh AS dan Israel. Korpe mencatat bahwa kedua negara tersebut kehilangan sekitar 57 miliar dolar AS atau setara 8,6 persen dari PDB tahunan dalam berbagai konflik selama dua tahun terakhir.

Dari perspektif militer, ia menambahkan bahwa keunggulan sejati tidak selalu dimiliki oleh pihak terkuat, melainkan oleh pihak yang memiliki kemampuan eskalasi paling murah dan tersebar.

Drone dan rudal murah milik Iran telah menciptakan ketimpangan biaya terhadap sistem pertahanan udara AS dan Israel yang jauh lebih mahal. Bahkan, muncul laporan bahwa kedua negara tersebut berpotensi kehabisan pencegat (interceptor) untuk menghadapi serangan berkelanjutan Iran.

Sementara itu, meski AS memiliki angkatan laut terkuat di dunia dengan 11 kapal induk bertenaga nuklir, Iran tetap mampu menutup Selat Hormuz.

Upaya Trump untuk mengajak NATO membuka jalur tersebut tidak mendapat komitmen jelas dari negara-negara Eropa. Inggris hanya mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk operasi AS.

Para analis menilai bahwa Iran, meski tanpa kapal induk, masih mampu mempertahankan blokade melalui metode sederhana seperti penanaman ranjau laut dan penggunaan rudal jarak pendek terhadap kapal.

Selain keunggulan vertikal dalam kekuatan udara yang dimiliki AS dan Israel, Iran memiliki pengaruh horizontal melalui jaringan sekutu di kawasan Timur Tengah.

Kelompok-kelompok militan syiah di Irak dan Lebanon, serta pasukan sekutu di Yaman, menjadi alat bagi Iran untuk menekan lawan dan memperluas konflik.

Saat ini, Israel juga terlibat bentrokan dengan Hizbullah di Lebanon, yang menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi. Di Yaman, kelompok Houthi berpotensi ikut serta dengan menyerang jalur pelayaran di Laut Merah.

Di Irak, serangan milisi syiah terhadap aset AS mendorong NATO menarik pasukannya, menunjukkan dampak luas jaringan sekutu Iran.

Korpe menilai kemampuan Iran melakukan pembalasan tidak konvensional, seperti melalui jaringan sekutu di berbagai negara, memungkinkan Teheran memperluas konflik ke banyak wilayah atau yang disebut sebagai eskalasi horizontal, sehingga memberinya keuntungan strategis dalam menghadapi lawan.

Senjata Nuklir Bukan Penentu

Meski ada spekulasi bahwa AS atau Israel dapat menggunakan senjata nuklir taktis, para analis menilai hal tersebut tidak realistis.

“Penggunaan senjata nuklir saat ini tidak terpikirkan dan bukan faktor utama dalam dominasi eskalasi,” tutur Krieg.

Korpe menambahkan bahwa status nuklir Iran masih ambigu. Negara tersebut dianggap berada pada kapasitas ambang, yakni hampir memiliki senjata nuklir tetapi belum terbukti memilikinya.

Kondisi ini menjadi dasar bagi AS dan Israel untuk melakukan serangan preemptif, sekaligus menghambat Iran membangun daya tangkal penuh.

Menurut Korpe, kekuatan Iran dalam dominasi eskalasi saat ini bukan terletak pada nuklir, melainkan pada perang asimetris.

“Iran memiliki kapasitas ambang yang memberikan efek penangkalan (deterrence), tetapi tidak mendorong eskalasi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kepemilikan senjata nuklir tidak menjamin keunggulan absolut. Dalam konteks modern, dominasi eskalasi menuntut supremasi di berbagai domain, termasuk siber, ruang angkasa, perang elektronik, tekanan ekonomi, dan operasi informasi.

Dengan kompleksitas tersebut, konflik antara AS, Israel, dan Iran menunjukkan bahwa dominasi eskalasi kini tidak lagi ditentukan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh kombinasi kemampuan dan ketahanan di berbagai bidang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *