Kemeriahan perayaan Imlek 2026 begitu sangat terasa sejak memasuki kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat. Bukan cuma sudut jalan, hampir di setiap toko juga dilengkapi dengan ornamen merah khas imlek.
Jakarta – Kemeriahan perayaan Imlek 2026 begitu sangat terasa sejak memasuki kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat. Gemerlapnya lampion-lampion di sudut jalan menjadikan kesan Tahun Baru Imlek semakin hangat. Bukan cuma sudut jalan, hampir di setiap toko juga dilengkapi dengan ornamen merah khas perayaan tersebut. Kue keranjang dan jeruk mandarin juga tak boleh luput dari perhatian. Alunan musik-musik Tionghoa seakan tak berhenti sepanjang jalan, menciptakan suasana meriah, sehinggan akan terasa lebih akrab.
Kemeriahan tidak hanya pada bagian pintu masuk kawasan Glodok. Di sebuah jalan sepetak tak jauh dari sana, ada Klenteng Toa Se Bio, yang menjadi salah satu pusat kemeriahan Imlek. Klenteng bersejarah ini terbuka untuk masyarakat, khususnya Tionghoa untuk sama-sama merayakan Imlek tahun ini. Lampion dan lilin merah tampak mendominasi dekorasi klenteng, serta menjadi simbol sinar terang berderang bagi kehidupan umat manusia. Ornamen khas Tionghia menghiasi setiap sudut klenteng. Tidak sekedar terlihat cantik dan indah, melainkan menambah kesan sakrar.
Di pintu depan, pengurus klenteng menyambut dengan antusias umat yang hadir untuk beribadah.
Memasuki pintu klenteng, tampak banyak lilin berjejer rapi, ada yang kecil, ada juga yang besar, tapi semuanya tetap harus merah. Salah satu pengurus Klenteng Toa Se Bio, Hartanto Wijaya, menyebut bahwa lilin adalah simbol penerangan umat manusia.
“Ini lilin, sudah ada nama umatnya, tujuannya untuk penerangan gitu loh. Doa dia supaya usahanya berhasil, keluarganya selamat, kan begitu”.
Semakin malam, suasana klenteng bukan semakin sepi, justru makin ramai masyarakat hadir untuk beribadah. Mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua semuanya khusyuk berdoa kepada sang pencipta di sebuah altar. Hartanto menyebut, satu hari sebelum Imlek memang identik dengan masyarakat yang datang dan memadati klenteng untuk beribadah. Selain itu, klenteng juga akan mengadakan ibadah bersama.
“Kita persiapan ntar sembahyang jam 11.30 malam. Kita berjamaah, bagi umat yang mau ikut silakan. Tapi kalau mereka enggak mau, ya masing-masing,” jelas Hartanto.
Selama Imlek, Klenteng Buka 24 Jam
“Kita enggak tutup nih, ihat sikon (situasi kondisi) juga sih. Kita buka terus Pak, 24 jam, bahkan 36 (jam) kali,” jelasnya. Semarak Imlek tahun ini, Hartanto memperkirakan akan ada ribuan umat yang hadir silih berganti.
“Ribuan Pak. Wah, ribuan. Itu yang kita dari minyak saja sudah mau seribu Pak. Tapi nggak signifikan semuanya datang Pak, jadi bergilir, ” kata dia.
Penampilan Barongsai Pukau Pengunjung
Hiruk pikuk Imlek rasanya tidak lengkap tanpa adanya penampilan barongsai. Di tengah khusyuknya umat beribadah, ada penampilan barongsai yang juga memeriahkan perayaan Imlek di Klenteng Toa Se Bio.
Sontak, banyak pengunjung yang tak mau ketinggalan dan langsung mengabadikan momen dengan gawainya masing-masing. Selain itu, perayaan Imlek bagi setiap orang tentu memiliki makna tersendiri, entah doa maupun harapan.
Dalam Imlek tahun ini, Hartanto berdoa semua apa yang diinginkan, diharapkan dan diimpikan bisa tercapai. Ia berharap, tahun sekarang bisa lebih baik dari sebelumnya. Doa untuk Negara Indonesia tercinta tak luput dari harapannya. Hartanto amat ingin Indonesia bisa menjadi negara yang lebih maju. Lampion tetap bergoyang pelan tertiup angin malam, sementara doa-doa terus dipanjatkan tanpa henti.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5504666/original/074396500_1771260026-1000003346.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5504667/original/067677600_1771260027-1000003332.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489835/original/093910600_1769935832-7.jpg)