76% Investor Optimistis Harga Emas “To The Moon”

Jakarta – Harga emas dunia melonjak tajam pada awal hingga akhir pekan kemarin. Ketegangan geopolitik kembali menjadi perhatian utama dan memicu aliran dana safe-haven ke emas serta perak. Melansir Kitco News, Senin (2/3/2026), di awal pekan kemarin, harga emas spot dibuka di level USD 5.146,59 dan langsung bergerak menguat. Setelah sempat menyentuh USD 5.174 pada Minggu malam, harga terkoreksi ke area support jangka pendek di UDS 5.125.

Pergerakan selanjutnya cenderung fluktuatif. Senin malam harga turun mendekati USD 5.165, lalu pada Selasa emas dunia kembali melemah hingga menyentuh UDS 5.100, yang menjadi titik terendah pekan ini. Namun tekanan tersebut tidak bertahan lama. Harga kembali pulih ke area USD 5.165 dan sempat menembus USD 5.200 pada Rabu, bahkan menyentuh USD 5.215 di siang hari. Memasuki pertengahan pekan, emas bergerak dalam fase konsolidasi di level tinggi, diperdagangkan dalam rentang yang semakin sempit antara USD 5.150 hingga USD 5.200 sepanjang Rabu dan Kamis.

Analis Wall Street dan Pelaku Pasar Optimis Harga Emas Menguat

Survei Emas Mingguan Kitco News terbaru menunjukkan pelaku pasar di Wall Street kembali bersikap bullish, sementara investor ritel atau Main Street juga semakin optimistis setelah reli harga yang solid. Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan mengungkapkan dirinya optimis dengan pergerakan emas pekan ini. Menurutnya pondasi pasar emas ini diletakkan selama empat tahun terakhir, dengan bank sentral membeli emas seperti yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

“Kelemahan ekonomi AS, disfungsi politik di Washington DC, dolar AS yang lemah, dan tumpukan utang AS semuanya menunjukkan reli ini akan berlanjut. Jika bukan karena alasan lain, karena pemerintah asing lebih memilih memiliki dan lebih percaya pada emas daripada dolar AS,” ujar Rich. Sementara itu, Adam Button, kepala strategi mata uang di Forexlive.com, memilih bersikap hati-hati dan berpandangan netral kepada emas. “Kita akan mengikuti ke mana pun bom AS membawa kita,” tuturnynya.

Soal Iran

Pandangan optimistis juga disampaikan James Stanley. Ahli strategi pasar senior di Forex.com mengatakan tetap berpegang pada bias bullish, tidak ada alasan untuk mempertanyakan harga emas saat ini, meskipun level harga agak menantang.

“Saya melihat USD 5.238 sebagai resistensi setelah breakout segitiga naik minggu ini, dan sejauh ini, level tersebut telah bertahan di titik tertinggi dua kali. Jadi, dari segi waktu, mengejar di level saat ini bisa menjadi tantangan, tetapi saya tidak melihat alasan untuk membalikkan tren pada titik ini,” jelasnya.

Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day pun melihat tren kenaikan masih berlanjut. Di sisi lain, Sean Lusk, co-direktur lindung nilai komersial di Walsh Trading, menyoroti dampak pengumuman pemerintah AS terkait Iran terhadap pasar komoditas pada Jumat.

“Ada banyak rumor dan kebisingan di sini. Tapi itulah yang diantisipasi, itulah sebabnya harga energi naik, harga logam naik, harga gandum naik, harga jagung naik, harga ternak turun, pasar saham turun 500 poin di Dow,” katanya.

Ia menambahkan, para pedagang praktis tak punya banyak pilihan selain menyesuaikan posisi menjelang akhir pekan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan terhadap Iran.

 

Hasil Survey Kitco

Sebanyak 18 analis ambil bagian dalam Survei Emas Kitco News pekan ini. Mayoritas pelaku pasar di Wall Street masih mempertahankan pandangan optimistis setelah performa emas yang solid. Sebanyak 12 analis atau sekitar 67% memperkirakan harga emas berpeluang menembus level USD 5.300 pada pekan depan.

Sementara itu, dua analis atau 11% memprediksi harga akan melemah, dan empat analis lainnya (22%) menilai prospek jangka pendek relatif berimbang.

Di sisi lain, jajak pendapat daring Kitco mencatat 266 responden dari kalangan investor ritel. Sentimen publik terlihat menguat setelah tiga pekan optimisme bertahan di kisaran 60%.

Sebanyak 202 responden atau 76% memperkirakan harga emas masih akan melanjutkan kenaikan pada pekan depan. Adapun 34 orang (13%) memproyeksikan penurunan, sedangkan 30 responden lainnya atau 11% memperkirakan harga bergerak mendatar.

Sentimen Sepekan

Untuk agenda ekonomi, kalender pekan ini memang tidak terlalu padat, namun sejumlah rilis data dinilai cukup penting. Pasar akan mencermati laporan ketenagakerjaan Februari dan penjualan ritel Januari, serta data terbaru sektor manufaktur dan jasa Amerika Serikat.

Pada Senin, pelaku pasar akan menunggu rilis PMI Manufaktur ISM Februari. Kemudian pada Rabu, akan dirilis data ISM Jasa serta laporan tenaga kerja versi ADP (Nonfarm Payrolls). Perhatian berlanjut pada Kamis dengan data klaim pengangguran mingguan. Puncaknya, pada Jumat pagi akan diumumkan laporan Nonfarm Payrolls Februari dan data Penjualan Ritel Januari, yang berpotensi memberi arah baru bagi pergerakan pasar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *